Tuesday, April 17, 2012

Fenomena pra UNAS

Assalamu'alaikum para pembaca muslimfriendship...
hari ini mungkin hari kedua Ujian Nasional tingkat SMA/SMK dan sederajat. jadi inget nih zaman dulu waktu masih pake putih abu - abu...hehe...
mmm.... sekedar pingin sharing fenomena pra UNAS. biasanya satu hari sebelum ujian nasional sekolah - sekolah mengadakan doa bersama sampai banyak siswa ataupun siswi yang meneteskan air mata karena mungkin takut tidak bisa melewati ujian nasional dengan lancar dan ada rasa was - was jika tidak bisa lulus ujian.
dan dari pihak sekolah biasanya mengundang seorang ustad atau kyai untuk memimpin doa. karena seluruh siswa diwajibkan ikut doa bersama, akhirnya ana ikut karena tidak ingin bermasalah diakhir - akhir sekolah dan sebenarnya waktu tersebutpun berbenturan dengan waktu kajian rutin pada saat itu.
mungkin awalnya diberi sebuah motivasi agar bagaimana menghadapi soal ujian dengan mudah. namun ana menemukan keganjalan pada proses berdoa yaitu siswa ataupun siswi disuruh menggenggam ujung pensil yang akan disertakan atau dipakai untuk ujian nasional dan bermaksud agar pensil tersebut nantinya bisa lancar saat dibaca oleh komputer istilahnya agar bisa tembus... hehe
dan pada saat kita masuk kelas juga disuruh untuk berdoa sebagaimana kita berdoa saat akan masuk masjid. seolah - olah agar pensil tersebut memiliki kekuatan untuk menolong dalam ujian nasional setelah didoakan. tapi secara logika saja si kalo kita mengerjakan ujian nasional tanpa pensil yo nda bisa karena syaratnya emang pake pensil...hehehe
artikel ini bukan bermaksud untuk menyinggung pihak manapun. artikel ini hanya ditujukan untuk sharing ilmu dan pengalaman yang ana pernah lalui. karena dalam hal beribadah termasuk berdoa ada kriteria syarat - syaratnya.
Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Aku ciptakan seluruh jin dan seluruh manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu“.(QS : Adz Dzariyat [51] :56). Namun telah tahukah kita bahwa ibadah memiliki syarat agar ibadah tersebut diterima di sisi Allah sebagai amal sholeh dan bukan amal yang salah? Dua syarat dalam ibadah itu adalah berniat ikhlas karena Allah ‘Azza wa Jalla dan ittiba’ (mencontoh) Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam.

Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh”, maksudnya adalah mencocoki syariat Allah (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen). Dan “janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”, maksudnya selalu mengharap wajah Allah semata dan tidak berbuat syirik pada-Nya.” Kemudian beliau mengatakan, “Inilah dua rukun diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. [Lihat Shohih Tafsir Ibnu Katsir oleh Syaikh Musthofa Al Adawiy hafidzahullah hal. 57/III, terbitan Dar Ibnu Rojab, Mesir]


Dalil lainnya adalah firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Dzat Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amal ibadahnya”.(QS : Al Mulk: 2). Fudhail bin ‘Iyaad rohimahullah seorang Tabi’in yang agung mengatakan ketika menafsirkan firman Allah, (yang artinya) “yang lebih baik amal ibadahnya” maksudnya adalah yang paling ikhlas dan yang paling benar (paling mencocoki Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Kemudian beliau rohimahullah mengatakan, “Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, amalan tersebut tidak akan diterima. Begitu pula, apabila suatu amalan dilakukan mengikuti ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak ikhlas, amalan tersebut juga tidak akan diterima. Amalan barulah diterima jika terdapat syarat ikhlas dan showab. Amalan dikatakan ikhlas apabila dikerjakan semata-mata karena Allah. Amalan dikatakan showab apabila mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam” [Lihat Ma’alimut Tanziil (Tafsir Al Baghowi) oleh Abu Muhammad Husain bin Mas’ud Al Baghowiy rohimahullah tahqiq Syaikh Muhammad Abdullah An Namr, terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh, KSA.]

bisa kita simpulkan apabila kita berdoa dengan keikhlasan sampai keluar air mata namun cara kita berdoapun atau dalam beribadah tidak sesuai dengan yang dicontohkan Rasululloh saw maka tidak diterima.
masa berdoanya dengan ritual memegang ujung pensil segala.(?.?)
adapun adab berdoa yang sesuai dengan dalil adalah :
-Pertama, mencari waktu yang mustajab.
“Allah turun ke langit dunia setiap malam, ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Allah berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku kabulkan, siapa yang meminta-Ku, Aku beri, dan siapa yang minta ampunan pasti Aku ampuni.” (H.r. Muslim)
-Kedua, mengangkat tangan
Ibn Abbas radliallahu ‘anhu mengatakan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berdoa, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya dan mengangkatnya setinggi wajahnya (wajah menghadap telapak tangan). (H.r. Thabrani)
-Ketiga, Menghadap kiblat dan mengangkat tangan
Dari Jabir radliallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berada di padang Arafah, beliau menghadap kiblat, dan beliau terus berdoa sampai matahari terbenam. (H.r. Muslim)
-Keempat, dengan suara lirih dan tidak dikeraskan.
Allah berfirman,

وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا
“Janganlah kalian mengeraskan doa kalian dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” (Q.s. Al-Isra: 110)
-Kelima, Tidak dibuat bersajak.
Doa yang terbaik adalah doa yang ada dalam Alquran dan sunnah.
Allah juga berfirman,
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Q.s. Al-A’raf: 55)
Ada yang mengatakan: maksudnya adalah berlebih-lebihan dalam membuat kalimat doa, dengan dipaksakan bersajak.
-Keenam, Rasululloh saw bersabda,
إذا صلى أحدكم فليبدأ بتحميد ربه جل وعز والثناء عليه ثم ليصل على النبي صلى الله عليه وسلم ثم يدعو بما شاء
“Apabila kalian berdoa, hendaknya dia memulai dengan memuji dan mengagungkan Allah, kemudian bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian berdoalah sesuai kehendaknya.” (H.r. Ahmad, Abu Daud dan dishahihkan al-Albani)
-Ketujuh, memperbanyak taubat dan memohon ampun kepada Allah.
Diriwayatkan bahwa ketika terjadi musim kekeringan di masa Umar bin Khatab, beliau meminta kepada Abbas untuk berdoa. Ketika berdoa, Abbas mengatakan, “Ya Allah, sesungguhnya tidaklah turun musibah dari langit kecuali karena perbuatan dosa. dan musibah ini tidak akan hilang, kecuali dengan taubat…”

semoga dalam melaksanakan suatu ibadah kita bisa sesuai dengan Al Qur'an dan As sunah agar ibadah kita bisa diterima oleh Alloh swt.  dan diberi pemahaman yang baik akan agama islam. Aamiin Ya Robb.
sekali lagi artikel ini bukan bermaksud menyinggung pihak tertentu, hanya sekedar berbagi pengalaman. semoga bisa diambil hikmahnya. jika ada kesalahan pada isi dan penulisan artikel ini, penulis mohon maaf. sama - sama belajar. yang menulis artikel tidak lebih baik dari yang membaca. dan kebaikan datangnya hanya dari Alloh swt.

note : dalil diambil dari beberapa sumber.

@_aby.

Reactions:

0 comments:

Post a Comment